Lulu Zahirah, Hendrina (2026) GAMBARAN KADAR SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) & SGPT(Serum Glutamic Pyruvic Transaminase)PADAPASIEN TUBERKULOSIS PARU YANG MENJALANI PENGOBATAN OAT DI RSUD KUMPULAN PANE TEBING TINGGI. Diploma thesis, Poltekkes Kemenkes Medan.
1. COVER & ABSTRAK.pdf - Published Version
Download (1MB) | Preview
2. BAB I.pdf - Published Version
Download (229kB) | Preview
3. BAB II.pdf - Published Version
Download (342kB) | Preview
4. BAB III.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (229kB)
5. BAB IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (196kB)
6. BAB V.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (156kB)
7. DAFTAR PUSTAKA & LAMPIRAN.pdf - Published Version
Download (1MB) | Preview
Abstract
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Pengobatan TB
menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dapat menimbulkan efek samping
berupa gangguan fungsi hati yang ditandai dengan peningkatan kadar enzim Serum
Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Pyruvic
Transaminase (SGPT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar
SGOT dan SGPT pada pasien Tuberkulosis yang menjalani pengobatan OAT di
RSUD Kumpulan Pane Tebing Tinggi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian
deskriptif. Variabel penelitian adalah kadar SGOT dan SGPT pada pasien
Tuberkulosis yang menjalani pengobatan OAT. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien
yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT
dilakukan menggunakan alat Blood Chemistry Analyzer ABX Pentra 400, kemudian
data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar SGOT normal ditemukan pada 18 pasien
(60%) dan kadar SGOT tinggi pada 12 pasien (40%). Kadar SGPT normal ditemukan
pada 10 pasien (33,3%) dan kadar SGPT tinggi pada 20 pasien (66,7%). Peningkatan
kadar SGOT dan SGPT paling banyak ditemukan pada kelompok usia 45–59 tahun,
sedangkan berdasarkan jenis kelamin pasien didominasi oleh laki-laki sebanyak 25
orang (83,3%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kadar
SGPT lebih banyak dibandingkan SGOT pada pasien Tuberkulosis yang menjalani
pengobatan OAT sehingga pemantauan fungsi hati selama pengobatan perlu
dilakukan.
Kata kunci: Tuberkulosis, Obat Anti Tuberkulosis, SGOT SGPT
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine |
| Divisions: | Jurusan/Prodi TLM Kemenkes Poltekkes Medan > KTI Mahasiswa Jurusan D3 Teknologi Laboratorium Medis |
| Depositing User: | Hermawani Syafriani Matondang |
| Date Deposited: | 31 Aug 2026 04:47 |
| Last Modified: | 31 Aug 2026 04:47 |
| URI: | https://repository.poltekkes-medan.ac.id/id/eprint/7491 |
