Jashmine, S Masarrah (2026) PERBEDAAN PENGGUNAAN SERUM DAN PLASMA TERHADAP HASIL PEMERIKSAAN WIDAL KUANTITATIF PADA SUSPEK DEMAM TIFOID DI RSU HAJI MEDAN. Diploma thesis, Poltekkes Kemenkes Medan.
1. COVER & ABSTRAK.pdf - Published Version
Download (1MB) | Preview
2. BAB I.pdf - Published Version
Download (295kB) | Preview
3. BAB II.pdf - Published Version
Download (523kB) | Preview
4. BAB III.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (301kB)
5. BAB IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (327kB)
6. BAB V.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Download (235kB)
7. DAFTAR PUSTAKA & LAMPIRAN.pdf - Published Version
Download (2MB) | Preview
Abstract
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella
typhi dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Diagnosis laboratorium yang
cepat dan akurat sangat diperlukan, salah satunya melalui uji Widal kuantitatif. Dalam praktiknya,
pemilihan jenis spesimen darah dapat memengaruhi akurasi hasil pemeriksaan karena keberadaan
zat aditif atau komponen pembekuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil
pemeriksaan Widal kuantitatif antara penggunaan spesimen serum dan plasma EDTA pada pasien
suspek demam tifoid di RSU Haji Medan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif
observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan
teknik total sampling sehingga diperoleh sebanyak 44 pasien suspek demam tifoid sebagai
responden. Pemeriksaan Widal kuantitatif dilakukan pada sampel serum dan plasma EDTA yang
diambil secara bersamaan dari pasien yang sama, kemudian data yang diperoleh dianalisis secara
statistik menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan
menggunakan spesimen serum memberikan hasil positif yang lebih tinggi, yaitu sebanyak 29
sampel (66%), dibandingkan dengan plasma EDTA yang menghasilkan hasil positif sebanyak 25
sampel (57%). Berdasarkan analisis statistik terhadap delapan jenis reagen Widal yang diuji,
mayoritas reagen tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p>0,05). Namun, pada
reagen Salmonella paratyphi C-H (CH), ditemukan perbedaan rata-rata yang signifikan dengan nilai
p=0,038 (p<0,05). Kandungan antikoagulan serta fibrinogen dalam plasma EDTA diduga dapat
menurunkan afinitas ikatan antigen-antibodi, sehingga cenderung menghasilkan pembacaan titer
yang lebih rendah. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa serum memberikan
sensitivitas yang lebih optimal dibandingkan plasma EDTA, sehingga serum tetap
direkomendasikan sebagai spesimen utama terbaik untuk pemeriksaan uji Widal kuantitatif.
Kata kunci: Demam tifoid, Titer, Uji Widal
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RA Public aspects of medicine |
| Divisions: | Jurusan/Prodi TLM Kemenkes Poltekkes Medan > KTI Mahasiswa Jurusan D3 Teknologi Laboratorium Medis |
| Depositing User: | Hermawani Syafriani Matondang |
| Date Deposited: | 19 Aug 2026 04:26 |
| Last Modified: | 19 Aug 2026 04:26 |
| URI: | https://repository.poltekkes-medan.ac.id/id/eprint/7003 |
